Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Search

Powered By Blogger

Rabu, 22 Mei 2013

ANALISIS VITAMIN C SECARA IODIMETRI DAN MANFAATNYA BAGI TUBUH


ANALISIS KADAR VITAMIN C SECARA IODIMETRI SERTA MANFAATNYA BAGI TUBUH

A.    PENDAHULUAN

Vitamin C atau asam askorbat, merupakan vitamin yang dapat ditemukan dalam berbagai buah-buahan dan sayuran. Vitamin C berwarna putih, berbentuk kristal senyawa organik, dan dapat disintesis dari glukosa atau diekstrak dari sumber-sumber alam tertentu seperti jus jeruk. Vitamin pertama kali diisolasi dari air jeruk nipis oleh Gyorgy Szent tahun 1928 (Rahmawati, 2012).
Vitamin C dikenal sebagai penangkal radikal bebas dalam fasa cair sel dalam sistem peredaran darah. Vitamin C bertindak ampuh mengurangi oksigen, nitrogen, dan sulfur yang bersifat radikal. Vitamin C bekerja sinergis dengan tokoferol yang tidak dapat mengikat radikal lipofilik dalam area lipid membran dan protein. Pengobatan dengan vitamin C dapat memulihkan kadar zat besi dalam tubuh (Thuppil, 2013).
Titrasi iodimetri adalah salah satu metode titrasi yang didasarkan pada reaksi oksidasi reduksi. Iodimetri merupakan titrasi terhadap zat-zat reduktor yang dilakukan secara langsung. Titrasi iodimetri ini dapat dilakukan untuk menentukan kadar zat-zat oksidator secara langsung, seperti kadar yang terdapat dalam serbuk vitamin C. Dalam bidang farmasi metode ini dapat juga digunakan untuk menentukan kadar zat-zat yang mengandung oksidator lainnya, misalnya Cl2, Fe (III), Cu (II) dan sebagainya. Dengan mengetahui kadar suatu zat, berarti dapat diketahui pula mutu dan kualitasnya (Sugiarti, 2008).
Mengonsumsi vitamin C yang berkualitas memiliki banyak manfaat bagi tubuh, salah satunya sebagai antioksidan yang dapat menangkal radikal bebas dan detoksifikasi obat dalam hati. Untuk menentukan  suatu kadar yang berkualitas dalam vitamin C, maka dapat digunakan metode iodimetri.
Dari uraian di atas, penulis tertarik untuk membahas mengenai analisis kadar vitamin C dengan metode iodimetri, serta manfaatnya bagi tubuh.
B.     PEMBAHASAN

1.      Analisis Kadar Vitamin C Secara Iodimetri

Titrasi iodimetri merupakan titrasi redoks. Titrasi-titrasi redoks berdasarkan pada perpindahan elektron antara titran dengan analit. Jenis titrasi ini biasanya menggunakan potensiometri untuk mendeteksi titik akhir, meskipun demikian, penggunaan indikator yang dapat merubah warnanya dengan adanya kelebihan titran juga sering digunakan.
Penentuan jumlah Vitamin C dapat dilakukan dengan metode titrasi iodimetri bipotentiometrik. Metode ini menghasilkan asam askorbat yang efisien dengan harga yang relatif rendah dengan murah peralatan. Sedangkan jika analisis menggunakan metode spektrofotometri, Vitamin C yang dihasilkan kurang layak, karena lebih mahal dan memakan waktu yang lebih lama dibandingkan iodimetri dengan perbedaan yang signifikan dalam akurasinya.
Prinsip dasar dari metode titrasi iodimetri ini adalah penambahan berlebih ion iodida ke dalam larutan kromium yang merupakan oksidator, kemudian ion kromium  inilah yang mengoksidasi ion iodida menjadi iod, iod yang bebas kemudian dititrasi dengan natrium tiosulfat. Iod mengoksidasi tiosulfat menjadi ion tetrationat.
Bahan-bahan yang digunakan dalam titrasi iodimetri ini antara lain vitamin C, larutan iodium, KI, larutan pati, dan air. Sedangkan alat yang dapat digunakan antara lain Erlenmeyer, gelas ukur, gelas kimia, petridish, piprt ukur, batang pengaduk, timbangan analitik, buret, corong, pipet volum, statif dan klem, pemanas, stopwatch, dan botol semprot. Langkah-langkah dalam titrasi iodimetri adalah (1) melarutkan vitamin C dalam 100 ml air dalam labu takar, (2) larutan tersebut dimasukkan dalam 6 erlenmeyer masing-masing sebanyak 5 ml, (3) kemudian dipanaskan pada suhu 40° C dalam 60 menit, pemanasan dilakukan dengan suhu yang berbeda untuk setiap erlenmeyer, (4) dilakukan titrasi dengan larutan pati sebagai indikatornya hingga terbentuk warna biru sebagai tanda titik akhir titrasi. Metode ini dapat diulang dengan suhu dan konsentrasi asam askorbat yang berbeda.
Metode titrasi langsung iodimetri dengan  larutan  standar iodium digunakan untuk menentukan vitamin C. Metode ini sangat efektif, sebab vitamin C mudah teroksidasi dan iodium mudah berkurang. Untuk mengurangi disipasi penguapan, iodium direaksikan dengan KI untuk membentuk Ion tri-iodida (I3-). Standarisasi larutan iodium tidak memerlukan air, melainkan menggunakan pati sebagai indikator.  Jika dalam suatu sampel (obat) mengandung vitamin C ditambahkan iodine, vitamin C akan teroksidasi, iodium berkurang, dan larutan menjadi berwarna biru. Perubahan warna ini menjadi dasar terjadinya reaksi dan menunjukkan titik akhir titrasi. Dari titrasi ini, jumlah larutan iodium yang digunakan setara dengan konsentrasi asam askorbat disetiap 60 menit interval sampel.

2.      Manfaat Vitamin C Bagi Tubuh

Vitamin adalah sekelompok senyawa organik kompleks yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah kecil. Vitamin harus dipasok dari luar tubuh manusia, sebab manusia tidak dapat mensintesis Vitamin sendiri. Salah satu vitamin tersebut adalah Vitamin C. Jumlah yang tepat dari vitamin C yang tubuh diperkirakan 45 sampai 75 mg per hari.
Vitamin C diperlukan untuk mengaktifkan berbagai enzim yang berkaitan dengan aktivitas sistem saraf, hormon, dan detoksifikasi obat dan racun dalam hati. Kedua, perannya sebagai antioksidan. Kelarutannya  memungkinkan untuk bekerja sebagai antioksidan dalam cairan tubuh. Ketiga, vitamin C meningkatkan tingkat penyerapan zat besi, kalsium, dan asam folat. Keempat, vitamin C dapat mengurangi reaksi alergi, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, merangsang pembentukan empedu dalam kantong empedu, dan memfasilitasi berbagai ekskresi steroid . Vitamin C penting dalam fungsi otak, dimana otak mengandung sejumlah besar vitamin C. Sebuah studi yang dilakukan oleh dua peneliti di Universitas Texas Woman menemukan bahwa siswa SMA dengan kadar Vitamin C dalam darah yang tinggi, dapat meningkatkan IQ siswa tersebut.
Vitamin C diperlukan untuk menjaga struktur kolagen, yaitu sejenis protein yang menghubungkan semua jaringan serabut, kulit, urat, tulang rawan, dan jaringan lain di tubuh manusia. Struktur kolagen yang baik dapat menyembuhkan patah tulang, memar, pendarahan kecil, dan luka ringan. Buah jeruk, salah satu sumber vitamin C terbesar.
Vitamin C juga berperan penting dalam membantu penyerapan zat besi dan mempertajam kesadaran. Melalui pengaruh pencahar, vitamini ini juga dapat meningkatkan pembuangan feses atau kotoran. Vitamin C juga mampu menangkal nitrit penyebab kanker. Penelitian di Institut Teknologi Massachusetts menemukan, pembentukan nitrosamin (hasil akhir pencernaan bahan makanan yang mengandung nitrit) dalam tubuh sejumlah mahasiswa yang diberi vitamin C berkurang sampai 81%.
Hipoaskorbemia (defisiensi asam askorbat) bisa berakibat seriawan, baik di mulut maupun perut, kulit kasar, gusi tidak sehat sehingga gigi mudah goyah dan lepas, perdarahan di bawah kulit (sekitar mata dan gusi), cepat lelah, otot lemah dan depresi. Di samping itu, asam askorbat juga berkorelasi dengan masalah kesehatan lain, seperti kolestrol tinggi, sakit jantung, artritis (radang sendi), dan pilek.
Kekurangan vitamin C bisa mengakibatkan penyakit kudis, yang tanda-tandanya bisa dilihat dari terjadinya radang gusi, luka bernanah, pembengkakan pada persendian. Bahkan kekurangan vitamin C yang parah dapat menyebabkan kematian. Sumber vitamin C adalah buah-buahan, khususnya yang rasanya manis, jambu, dan sayur-sayuran. Oleh karena itu, dianjurkan untuk mengonsumsi buah dan sayuran yang segar, sebab vitamin C ini mudah hilang saat dimasak.


C.    PENUTUP
Kesimpulan
Untuk menentukan kadar vitamin C dapat digunakan titrasi iodimetri yang merupakan analisis kuantitatif dalam kimia yang melibatkan reaksi reduksi oksidasi yang menggunakan larutan iodium sebagai zat penitrasi. Vitamin C merupakan senyawa organik kompleks yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah kecil, tetapi sangat memberi manfaat bagi kesehatan tubuh, utamanya sebagai antioksidan yang dapat menangkal radikal bebas.

DAFTAR PUSTAKA

Gandjar, Ibnu Gholib dan Abdul Rohman, 2007, Kimia Farmasi Analisis, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Muhammad, Abdul Basith, 2006, Pola Makan Rasulullah: Makanan Sehat Berkualitas Menurut al-Qur’an dan as-Sunnah, Almahira, Jakarta.

Rahmawati, Sitti dan Bunbun Bundjali, 2012, Kinetics of the Oxidation of Vitamin C, Jurnal Indo J. Chem ISSN: 291 - 296, Universitas Tadulako.

Rajasulochana, dkk, 2013, An Investigation on the Antioxidants, Antifungal and Antibacterial of the Kappaphycus Alvarezii, Research Journal of Pharmaceutical, Biological and Chemical Sciences Volume 4 Issue 1 ISSN: 0975-8585, India.

Revan, 2011, Vitamin C (Asam Askorbat), http://drevan.blogspot.com/2011/06/vitamin-c-asam-askorbat.html, diakses tanggal 7 April 2013.

Sugiarti, 2008, Pengaruh Jenis Aktivasi Terhadap Kapasitas Adsorpsi Zeolit pada Ion Kromium (VI), Jurnal Chemical Vol. 9 Nomor 2, UNM, Makassar.

Thuppil, Venkatesh, 2013, Treating Lead Toxicity: Possibilities beyond Synthetic Chelation, Journal of Krishna Institute of Medical Sciences University Vol. 2, No. 1 ISSN 2231-4261, India.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages

Daftar Blog Saya